logo

Perbedaan Akta Otentik dengan Surat Di bawah tangan

Dalam beberapa kesempatan, saya diminta untuk menjelaskan, apa yang dimaksud dengan akta otentik dan mengapa akta notaris dianggap sebagai akta otentik. Sejak jaman Belanda, memang ada pejabat-pejabat tertentu yang ditugaskan untuk membuat pencatatan-pencatatan serta menerbitkan akta-akta tertentu mengenai keperdataan seseorang, seperti misalnya kelahiran, perkawinan, kematian, wasiat dan perjanjian-perjanjian diantara para pihak, dimana hasil atau kutipan dari catatan-catatan tersebut dianggap sebagai akta yang otentik. Arti sesungguhnya dari akta otentik adalah: akta-akta tersebut harus selalu dianggap benar, kecuali jika dibuktikan sebaliknya di muka pengadilan. Mengenai definisi dari akta otentik dituangkan dalam pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang mengatakan bahwa:

“akta otentik adalah akta yang (dibuat) dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai2 umum yang berkuasa untuk itu, ditempat dimana akta dibuatnya.”

Jadi, apabila di ambil point2nya, maka yang dimaksud sebagai akta otentik harus memenuhi criteria sebagai berikut:
1. Bentuknya sesuai UU
Bentuk dari akta notaris, akta perkawinan, akta kelahiran dll sudah ditentukan format dan isinya oleh Undang-Undang. Namun ada juga akta-akta yang bersifat perjanjian antara kedua belah pihak yang isinya berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak sesuai dengan azas kebebasan berkontrak.
2.Dibuat di hadapan pejabat umum yg berwenang
3.Kekuatan pembuktian yang sempurna
4.Kalau disangkal mengenai kebenarannya, maka penyangkal harus membuktikan
mengenai ketidak benarannya

Apakah yang berhak untuk membuat akta otentik hanyalah Notaris? Tentu saja tidak, karena yang dimaksud dengan “pejabat umum yang berwenang” itu sendiri adalah pejabat yang memang diberikan wewenang dan tugas untuk melakukan pencatatan tersebut, misalnya: Pejabat KUA atau pejabat catatan sipil yang bertugas untuk mencatat perkawinan, kelahiran dan kematian, PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dan lain sebagainya.

Berbeda dengan akta otentik, akta di bawah tangan memiliki ciri dan kekhasan tersendiri, berupa:

1.Bentuknya yang bebas
2.Pembuatannya tidak harus di hadapan pejabat umum
3.Tetap mempunyai kekuatan pembuktian selama tdk disangkal oleh pembuatnya
4.Dalam hal harus dibuktikan, maka pembuktian tersebut harus dilengkapi juga dengan saksi-saksi & bukti lainnya. Oleh karena itu, biasanya dalam akta di bawah tangan, sebaiknya dimasukkan 2 orang saksi yang sudah dewasa untuk memperkuat pembuktian.

*******

2 Comments For This Post

  1. jono wahyono Says:

    bagai mana jika akta/surat bawah tangan yang dilegalisasi notaris, apakah kekuatan pembuktiannya sempurna di hadapan hakim? Bisakah hakim menolak akta/surat bawah tangan tersebut ?

    JAWAB:
    pak, kalau dari kekuatan pembuktian, tentu saja yang paling sempurna adalah akta notaris (karena merupakan akta otentik). Surat di bawah tangan yang dilegalisir juga dapat dijadikan alat bukti yang kuat, namun berada setingkat di bawah akta otentik. salam,

  2. Liana Says:

    Pimpinan saya dari perusahaan di Spore baru saja menandatangani Surat Kesepakatan dengan partner di Indonesia. Surat tsb dalam bahasa Indonesia, dengan meterai, tanpa saksi/notaris (surat perjanjian di bawah tangan).Pimpinan saya tidak begitu paham bahasa Indonesia, hanya percaya kepada partnernya saja.

    Setelah dipelajari, ditemukan beberapa klausa yang memberatkan pihak kami.Dapatkah pihak kami membatalkan surat kesepakatan tersebut secara sepihak? Sejauh mana kekuatan hukum surat perjanjian di bawah tangan tsb?

    Terimakasih banyak.
    Salam
    Liana

    JAWAB:
    Walaupun dibuat di bawah tangan, perjanjian tersebut tetap mengikat bagi kedua belah pihak. Pembatalan sepihak dapat dimohonkan dengan alasan “Kekhlifan (tidak memenuhi syarat subjektif dalam pasal 1320 KUHPer). Namun berdasarkan pasal 1265 dan 1266 KUHperdata pembatalan tersebut hanya dapat dimohonkan melalui pengadilan. Kecuali dalam perjanjian disebutkan bahwa para pihak telah sepakat untuk mengesampingkan pasal 1265, 1266 dan 1267 KUHperdata
    salam hangat

Berkomentar


Untuk berlangganan artikel kami silahkan klik dibawah ini

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x