Take a fresh look at your lifestyle.

KEAMANAN DUNIA MAYA, TANDA TANGAN DIGITAL DAN LEGAL TECHNOLOGY (Part I)

894
Lebih dari 280 juta jiwa penduduk Indonesia tersebar di 17.508 pulau. Sekitar 721 bahasa dan 300 etnis menjadi tantangan tersendiri dalam berkomunikasi dan memanfaat teknologi internet. Penelitian APJII (Asosialsi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyatakan, pada tahun 2018 penetrasi pengguna internet Indonesia berjumlah 64,8 %, naik dari tahun sebelumnya (54,68%). Marc Andersen dalam publikasinya di The Wall Street Journal pada tahun 2011 memopulerkan ‘’Software is eating the world’’. Hal ini menggambarkan bahwa lahirnya software-software baru mengubah bisnis konvensional menjadi lebih modern. Misalnya dengan adanya ojek online berbasis aplikasi saat ini memudahkan pengguna dalam bepergian tanpa harus pergi ke pangkalan. Berbagai software yang semakin marak saat ini menjadikan data pengguna sebagai bahan bakar baru untuk bisnis besar bergerak, dan ‘analitik’ sebagai mesinnya. Analitik menggunakan data secara matematis untuk menjawab pertanyaan bisnis dalam menemukan pola, memprediksi hasil dan mengautomasi keputusan. Semuanya bisa dijual sebagai sebuah pelayanan, termasuk data pribadi kita. Saat ini, keamanan dunia maya adalah hal terpenting yang semakin mengkhawatirkan. Kecanggihan internet telah menghubungkan milliyaran perangkat pintar yang berisi data pribadi penggunanya. Misalnya saja kita cermati bagaimana pengiklan menjangkau orang melalui iklan di Facebook Ads. Pengiklan menentukan tujuan bisnisnya,baik itu menjual produk atau sekedar meningkatkan brand awareness produk mereka. Pengiklan akan mengidentifikasi calon costumer yang sesuai. Setelah iklan yang dibuat siap dipublikasikan, Facebook menunjukkan iklan ini kepada audiens yang sesuai dengan target pengiklan berdasarkan data para pengguna. Ponsel diam-diam sudah mengantongi aneka data yang kita miliki lewat beragam aplikasi yang diinstal pengguna. Diantara ‘’Signal’’, ‘’Telegram’’, ‘’Whatsapp’’ dan ‘’Facebook’’, manakah yang mengumpulkan data paling banyak? ‘’Signal’’ hanya  menyimpan data pengguna berupa nomor telepon. Telegram mengantongi beberapa kontak yang ada di ponsel pengguna, Identitas pengguna dan  info kontak. Whatsapp mengantongi identitas perangkat, identitas pengguna, data iklan, riwayat pembelian, lokasi pengguna, nomor telepon, email, kontak-kontak di ponsel penguna, bentuk-bentuk interaksi, kerusakan data, tampilan data, dukungan pelanggan dan aneka konten pengguna lainnya. sementara Facebook mengantongi riwayat pembelian, data iklan, lokasi presisi, alamat tinggal  email, nama, nomor telepon, kontak, foto dan video, konten games, riwayat pencarian, identitas pengguna identitas perangkat,interaksi dan masih banyak lagi. Banyaknya data pengguna yang dikantongi oleh aplikasi-aplikasi di atas menjadikan tidak ada lagi yang namanya data pribadi. Alamat rumah, informasi pekerjaan, agama, informasi kesehatan, informasi keuangan, hobi, opini politik, data lokasi, yang merupakan data-data sensitif. Asas Perlindungan Data Pribadi, menyatakan: Penghormatan terhadap data pribadi sebagai privasi, data pribadi bersifat rahasia, berdasarkan Persetujuan, relevansi dengan tujuan perolehan, pengumpulan, pengolahan, penganalisisan, penyimpanan, penampilan, pengumuman, pengiriman, dan penyebarluasan, kelayakan Sistem Elektronik yang digunakan, itikad baik untuk segera memberitahukan secara tertulis kepada pemilik data atas setiap kegagalan perlindungan data pribadi, ketersediaan aturan internal pengelolaan perlindungan data, tanggung jawab atas data pribadi yang berada dalam penguasaan Pengguna, kemudahan akses dan koreksi terhadap data pribadi oleh pemilik dan keutuhan, akurasi, dan keabsahan serta kemutakhiran data pribadi. Apakah data pribadi pengguna di Indonesia aman? Indonesia menduduki urutan ke-4 untuk Cyber Security Attack Source tertinggi dunia. Terdapat 3,3 juta serangan dunia maya di Indonesia. Dari 3.207 kasus, 65% diantaranya merupakan kasus asing. Dari 9 aturan regulasi yang menyangkut keamanan data di Indonesia, hanya 2 regulasi tindakan keamanan data dan hanya 2 regulasi yang bersifat spesifik. Diperlukan kerangka kerja infrastruktur kritis yang memadai untuk mewujudkan keamanan informasi pengguna. Infrastruktur kritis merupakan layanan vital yang jika tidak berfungsi selayaknya akan menimbulkan kelumpuhan ekonomi kerusakan yang amat besar, kekacauan, bahkan kematian. Fungsi perekonomian suatu negara sangat bergantung dengan database informasi yang saling bergantung dan berhubungan satu sama lain.  Kesadaran bersama diperlukan agar sistem-sistem dan jaringan ini sangat penting dan perlu diprioritaskan dalam kebijakan nasional. Kerusakan pada keamanan informasi dapat menimbulkan dampak yang besar terhadap perekonomian. Dibutuhkan agenda Research and Development yang komprehensif dan interdisipliner yang meliputi segala bidang ilmu. Produsen-produsen software juga turut mengimplementasikan kerangka kerja infrastruktur kritis untuk menjaga keamanan data pengguna. Tanpa adanya koordinasi dari semua pihak, kerangka kerja infrastruktur kritis tidak bisa berjalan optimal. Jika dilihat dalam hierarki kebutuhan Maslow, kejahatan dunia maya berpotensi untuk mengganggu tepenuhinya kebutuhan di setiap tingkatan.   Kejahatan terorganisir dalam pencurian data berpotensi mengganggu kebutuhan aktualisasi diri pengguna. Aktifitas hacking, cyber bullying, cyber stalking dapat mengganggu kebutuhan psikologis, mengancam penerimaan diri dan intimacy hubungan serta pertemanan. Sementara penipuan, peretasan lalu lintas serta serangan infrastruktur kritis dapat mengganggu kebutuhan fisiologi dan rasa aman pengguna dimana kebutuhan ini menduduki urutan pertama dan memiliki porsi paling besar seperti rasa terancam, kelaparan, kebutuhan akan air bersih akan sangat mengganggu terpenuhinya kebutuhan dasar pengguna. Ruang lingkup keamanan dunia maya meliputi sistem perlindungan, jaringan dan program dari keterikatan dengan target: a) Akses dalam informasi, b) Membuat sistem yang tidak dapat diakses dengan sistem , c) Mengubah informasi tertentu, d) Merusak informasi dan e) Mendapatkan uang. Kejahatan dan keamanan dunia maya sebagian besar terfokus pada keuangan dan moneter. Beberapa tahun belakangan kejahatan dunia maya menghancurkan reputasi beberapa lembaga pemerintah dan industri perbankan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.