Bila membicarakan Jakarta, ingatan kita segera terlempar pada salah satu pelabuhan tertua di Indonesia yaitu Sunda Kelapa. Ia adalah cikal bakal terbentuknya Jakarta, satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Iya benar, kita sedang membicarakan Ibukota Negara yang mendapat predikat Daerah Khusus Ibukota.
Sejarah Berdirinya Kota Batavia
Rupanya hubungan antara Portugis dengan Kerajaan Sunda dipandang sebagai ancaman oleh Kerajaan Demak. Barangkali karena Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta, di saat Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk.
Kala itu, raja Sunda menyepakati perjanjian persahabatan dengan raja Portugis dan memutuskan untuk memberikan tanah di mulut Ciliwung sebagai tempat berlabuh kapal-kapal mereka. Selain itu, raja Sunda berjanji jika pembangunan benteng sudah dimulai, maka dia akan menyumbangkan seribu karung lada kepada Portugis. Untuk apa? Maksud Kerajaan Sunda mengundang Portugis tentu demi mengamankan eksistensinya atas apriori terhadap perkembangan Islam di pulau Jawa.
Dalam sudut pandang Fatahillah, pemimpin Kerajaan Demak, kehadiran Portugis di Sunda Kelapa adalah ancaman regional terhadap seluruh kerajaan di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Itulah alasan kenapa kemudian Kerajaan Demak bersama Kesultanan Cirebon merencanakan penyerangan atas Sunda Kelapa.
Hari lahir Kota Jakarta bukannya tanpa pertentangan. Seorang peneliti asal Jerman bernama Adolf Heyken meragukan bahwa nama Jayakarta disematkan oleh Fatahillah. Menurut Heyken, Fatahillah adalah orang Arab dan sangat tidak mungkin ia memberi nama sesuatu dengan nama dari istilah Sanskerta. Apalagi sesuatu yang sangat berharga sekaligus prestisius seperti Sunda Kelapa yang berhasil ditaklukannya.
Tokoh sekaligus budayawan Betawi Ridwan Saidi pernah angkat bicara terkait HUT DKI Jakarta yang selalu diperingati setiap 22 Juni tersebut. Menurut Ridwan Saidi, pada tanggal itu pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Cirebon tidak hanya memerangi bangsa Portugis, tetapi juga membantai penduduk asli Sunda Kelapa, yakni orang-orang Betawi. Dari situlah, ia tidak rela kalau tanggal 22 Juni 1527 ditetapkan sebagai hari lahir Jakarta. Dikatakan pula oleh Ridwan Saidi, nama Jayakarta sudah ada sejak lama. Ada sebuah desa di Karawang yang namanya Jayakerta. Itu merupakan wilayah budaya Betawi. Desa Jayakerta diyakini sudah ada sejak zaman Siliwangi.
Kedatangan Belanda dan Pergantian Nama Jayakarta Menjadi Batavia.
Di tahun 1610 Belanda bikin perjanjian dengan Penguasa Jayakarta. Dalam isi perjanjian itu, disebutkan bahwa Belanda diizinkan membuat pos dagang serta Gudang di timur muara sungai Ciliwung. Perjanjian tersebut disetujui oleh Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta, penguasa Jayakarta. Sejak tahun 1611 Kongsi Dagang Belanda yang kita kenal sebagai VOC, mereka mulai membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Pembangunan itu bersamaan dengan dibangunnya Gudang. Alhasil, dalam waktu singkat Belanda meraup keuntungan yang besar dari perdagangan rempah-rempah. Melihat kenyataan itu, Belanda tergelitik memutuskan untuk melakukan ekspansi di Jayakarta, hingga kemudian mereka mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.
Baca juga; Pemindahan Ibu Kota – Melanggar Daulat Rakyat?
Pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang Jayakarta, pihak yang justru memberi mereka izin untuk berdagang. Tak hanya itu, Belanda pun membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk. Hingga akhirnya Belanda dapat menguasai seluruh kota. Semula Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, akan tetapi De Heeren Zeventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang orang Batavia. Kota ini di kemudian hari dijadikan Ibukota oleh pihak Belanda.
Pada 4 Maret 1621, untuk pertama kali juga, Belanda membentuk Pemerintah Kota bernama Stad Batavia. Kota yang semula bernama Jayakarta ini dibumiratakan. Kemudian dibangun banteng. Ada galian parit di bagian depan benteng. Di bagian belakang dibangun gudang yang juga dikitari parit, pagar dari besi, serta tiang-tiang yang kokoh. Selama delapan tahun kota Batavia sudah meluas tiga kali lipat. Pembangunannya selesai pada tahun 1650. Kota Batavia sebenarnya terletak di selatan Kastil yang juga dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipotong-potong oleh banyak parit.
Untuk pembangunan kota Batavia, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Seperti itulah gambaran singkatnya, selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting.
Memasuki Abad keduapuluh, nama Batavia berturut-turut mengalami pergantian, yaitu mula-mula pada 1 April 1905 berubah nama menjadi Gemeente Batavia. Ada embel-embel Gemeente sebab waktu itu di Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. Tigapuluh tahun kemudian, tepatnya pada 8 Januari 1935 ia berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
Hendrik Freek Tillema, seorang ahli kesehatan dari Belanda, ia pernah mengusulkan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda. Ia memiliki argumentasi bahwa Batavia bukan tempat yang tak layak sebagai pusat pemerintahan. Salah satu alasannya adalah karena Batavia juga salah satu kota pelabuhan yang pada umumnya berhawa panas, tidak sehat, serta mudah terjangkit wabah.
“Kota-kota pelabuhan di pantai Jawa sudah terasa panas dan semangat pekerja turun karena cepat lelah,” kata Hendrik.
Hendrik mengusulkan memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda ke Bandung. Usulannya terlaksana di masa Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum menjelang 1920. Stirum sendiri menjabat Gubernur Jenderal pada 1916-1921.
Pemindahan ibu kota Hindia Belanda pun dieksekusi menjelang 1920, diawali perpindahan kantor Jawatan Kereta Api Negara, Pos dan Telepon, Departement van Geovernements Bedrijven (GB) yang membawahi Dinas Pekerjaan Umum. Departement van Geovernements Bedrijven menempati Gedung Sate yang dibangun dengan biaya enam juta Gulden dan dirancang oleh arsitek J. Gerber. Secara keseluruhan, perpindahan kantor-kantor ini selesai pada 1920.
Nasib Batavia di Masa Pendudukan Jepang.
Indonesia Merdeka.
Ketika Indonesia merdeka, nama Jakarta tetap dipakai. Tentu nama Batavia tak lagi digunakan karena tak sesuai dengan semangat saat itu. Di masa kemerdekaan tersebut, Jakarta kembali menjadi ibukota Indonesia. Menjelang terjadinya Agresi Militer Belanda yang pertama, kemudian disusul dengan Agresi Militer Belanda yang kedua, dilakukan pemindahan ibukota secara administratif.
Di antara Agresi Militer pertama dan kedua, pemerintah pernah membentuk Panitya Agung yang bertugas menyelidiki dan merencanakan penempatan ibukota negara. Itu dimulai pada tahun 1947. Presiden Sukarno termasuk salah satu anggota Panitya Agung. Panitya Agung dibentuk di tengah kekacauan yang terjadi di Jakarta akibat pendudukan oleh pasukan Belanda. Saat itu, posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan telah bergeser ke Yogyakarta. Dari Panitya Agung inilah muncul sejumlah daerah selain Jakarta yang ditimbang layak menjadi ibukota negara. Daerah itu antara lain Bandung, Malang, Surabaya, Surakarta, hingga Kabupaten Temanggung dan Magelang. Sayangnya, hingga Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan telah usai dan pemerintahan kembali ke Jakarta, kabar tentang kinerja Panitya Agung tak ada kejelasan. Rencana pembangunan ibukota negara yang baru hanyalah tinggal rencana.
Meskipun tiada kejelasan mengenai kinerja Panitya Agung, namun bila bicara tentang wacana pemindahan ibukota, orang selalu antusias.
Daerah Khusus Ibukota pertama kali tertuang dalam Penetapan Presiden Republik Indonesia (Perpres) No. 2 Tahun 1961 Tentang Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya yang kemudian menjadi UU PNPS No. 2 Tahun 1961. Keberadaan Undang-undang ini seolah mengakhiri wacana tentang pemindahan ibukota negara. Wacana pemindahan tersebut semakin surut manakala dipertegas dengan hadirnya UU No. 10/1964 yang menyatakan Jakarta tetap sebagai ibukota negara, dengan nama Jakarta.
Lama kemudian, di era kepemimpinan Suharto, gagasan pemindahan ibu kota muncul kembali dengan mengusulkan daerah Jonggol, Bogor, sebagai Ibu Kota negara. Sayang, gagasan tersebut tak sempat terwujud terkait Suharto lengser terlebih dahulu dari jabatan Presiden pada 1998.
Pemindahan ibu kota kembali ramai di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2010. Waktu itu SBY menawarkan tiga opsi untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota Jakarta. Pertama, mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota maupun pusat pemerintahan dengan pembenahan total. Kedua, Jakarta tetap menjadi ibu kota, tetapi pusat pemerintahan dipindahkan ke daerah lain. Terakhir, membangun ibu kota baru.
Ketika Jakarta dilanda banjir besar pada 2013, masih di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, wacana pemindahan ibukota mencuat kembali.
Di era pemerintahan Jokowi, wacana mengenai pemindahan ibukota muncul pada 2017, kemudian dibahas lagi pada 2018, hingga dibawa dalam rapat terbatas pada 29 April 2019.
Demikian kisah tentang Ibukota Jakarta dari masa ke masa.
Referensi :
– budayawan Betawi Ridwan Saidi
– (Perpres) No. 2 Tahun 1961
– UU No. 10/1964
– UU No. 34 Tahun 1999