Take a fresh look at your lifestyle.

Wabah Virus Corona

- Antara Hoax dan Realita

2,455

Apa sih topik yang lagi trend sekarang ini dan ramai dibicarakan oleh public? Mulai dari kalangan kelas atas hingga di warung-warung kopi, topik ini tidak pernah usai untuk dibicarakan. Apalagi kalau bukan wabah virus corona, lebih spesifik lagi virus novel-corona2019 atau lebih mudah menyebutnya virus corona (korona) saja. Sudah sejak pertengahan bulan Desember 2019 sejak dideteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, Cinavirus corona kini terus menyebar ke lebih dari 20 negara. Hal tersebut tentu saja membuat parno semua lapisan masyarakat. Kepanikan tak terhindarkan termasuk di berbagai platform media sosial. Banyak sekali beredar berbagai info dan spekulasi yang sayangnya terkadang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan malah menambah kepanikan masyarakat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) hingga Senin (03/02/2020) malam, mencatat sebanyak 56 temuan konten hoaks terkait virus corona sejak tanggal 23 Januari 2020, baik di media sosial maupun aplikasi berbagi pesan elektronik seperti WhatsApp. Kominfo juga mencatat sebaran hoaks terkait virus corona cenderung meningkat menyusul kemunculan 36 konten hoaks hanya dalam satu hari pada Jumat (31/1).

Nah… sebelum kita ikut menjadi penyebar kepanikan atau sebaliknya menjadi korban kepanikan dari berbagai berita yang simpang siur di masyarakat, mari kita pelajari dulu sebenarnya seberapa gawat virus corona itu dan bagaimana cara pencegahannya.

Sebenarnya, beberapa kali dunia pernah mengalami wabah penyakit yang berasal dari virus mematikan. Sebut saja virus Ebola, Mers, Sars dan kini, Novel Corona-2019, yang mengakibatkan korban jiwa hingga ribuan orang. Meski disebut dampak kematiannya lebih rendah, namun sejak terdeteksi di Wuhan, Cina, sekitar dua bulan lalu, wabah virus corona hingga tulisan ini dibuat, masih dianggap sebagai momok yang mengerikan.

Setidaknya 130 orang dikabarkan tewas akibat virus tersebut, dan sangat mungkin kian hari kian bertambah jumlahnya. Sekitar 4.500 orang lainnya terkonfirmasi terinfeksi. Selain itu, corona juga berdampak pada penutupan atau pengisolasian sebanyak 14 kota di Cina. Akibatnya sekitar 50 juta orang termasuk warga negara Indonesia (WNI) di Wuhan, terisolasi. Sepertinya kondisi ini belum pernah terjadi di negara manapun. Selain itu, juga beredar kabar virus corona menjangkau pula sejumlah negara lain di Asia, seperti Korsel, Taiwan, Thailand, Jepang, dan Thailand.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut virus corona berasal dari famili yang sama dengan SARS dan MERS yang dulu pernah menjadi momok yang menakutkan di Asia. Jadi besar kemungkinan penyebaran virus corona memiliki pola dan kecepatan yang sama dengan SARS serta MERS. Ingat, betapa cepatnya virus SARS menyebar sejak ditemukan kasus pertama pada 2002 silam. Cuma dalam waktu setahun, ada 8.069 kasus dengan korban tewas sebanyak 775 orang. Penyebarannya cepat, luas, dan mematikan.

 

dr. Surahman Muin, Sp, PD, yang merupakan dokter internist yang berpraktik di RS Satya Negara Sunter, Jakarta Utara menyatakan bahwa era keterbukaan membuat berita dan kabar cepat menyebar. Apalagi hampir semua orang punya medsos dan bisa mengakses informasi dari belahan dunia manapun dan kapanpun. Sehingga beritanya terkesan heboh dan muncul berita-berita hoax yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terkadang ada yang memanfaatkan dan mendramatisir keadaan, sehingga membuat orang terlalu berlebihan dan suasananya menakutkan. Sebenarnya, dulu pun kita pernah mengalami wabah penyakit SARS dan MERS, tapi tidak seheboh sekarang. Social media yang membantu massive nya penyebaran berita tersebut tentu saja sempat menimbulkan tingkat kecemasan yang luar biasa bagi masyarakat dunia.

“Virus corona sampai sekarang ini memang belum ditemukan vaksinnya. Jika melihat jumlah kasusnya sampai saat ini dan dari sisi angka kematiannya hanya sekitar 4%, angka ini bisa bertambah atau berkurang, maka jauh lebih kecil dibandingkan saat wabah MERS dan SARS. Tapi kali ini tingkat kehebohannya luar biasa, karena pengaruh medsos. Informasi yang beredar juga simpang siur dan tidak jelas. Banyak sekali orang yang buat cerita yang jauh dari fakta”, ungkap dr Surahman ketika dihubungi IDLC melalui sambungan telepon.

Lebih lanjut Surahman menerangkan tentang dua hal yang harus kita ingat untuk menghindari kecemasan bila menjumpai gejala seperti yang ditemukan dalam penyebaran virus corona. Yang pertama, jika ada keluhan demam, batuk, riwayat kita pernah kontak dengan orang yang terinfekai atau terduga terinfeksi. Selain itu, pernahkah kita mengunjungi walayah-wilayah terinfeksi/epidemi selama dalam kurun waktu 2 minggu terakhir? Karena masa inkubasi virus tersebut memerlukan waktu sekitar 14 hari. Jadi jika tidak pernah kontak dan melakukan perjalanan ke wilayah epidemi, berarti itu hanyalah gejala flu biasa. Jadi jangan cepat cemas dan panik.

Kedua, virus corona 2019 pertama kali ditemukan pada penderita pnemonia yang diduga terinfeksi virus dari virus yang ditemukan pada hewan seperti tikus, kelelawar dan ular yang diperjualbelikan secara bebas untuk konsumsi manusia di pasar Wuhan. Nah, kita pernah gak sih memakannya selama ini? Ini berawal dari binatang yang tak layak dimakan, pernah nggak kita memakannya? Karena sebenarnya virus ini hidup di dalam sel hewan tersebut. Meski awalnya, hidup di hewan, kemudian masuk ke manusia dengan memakan hewan tersebut sehingga virus ini bisa berkembang hidup dalam tubuh manusia dan selanjutnya bisa ditularkan manusia ke manusia melalui percikan lendir saat penderita batuk.

Lebih jelas Surahman juga menjelaskan tentang penelitian yg dibacanya terkait virus corona. Menurutnya, virus ini bisa berkembang dengan baik pada suhu 4-20 derajat, pada suhu ini akan berkembang lebih cepat. Namun, pada suhu 40 derajat virus corona tersebut tidak dapat berkembang dan membelah diri. Penelitian lain menunjukkan bahwa pada suhu 57 derajat  selama 30 menit maka virus ini akan mati. Virus ini tidak hidup di alam bebas, dia hidup pada sel manusia yang terinfeksi. Dia hidup pada hewan-hewan. Untuk kasus di Sulawesi dan Manado, terkait beberapa kebiasaan mengkonsumsi hewan seperti kelelawar, memang masih belum ada penelitian lebih lanjut soal itu. Karena hewan tersebut bisa membawa virus corona jika dia sudah terinfeksi juga dengan virus corona tersebut. Namun demikian, Surahman menekankan bahwa hal ini muncul karena pola hidup yg secara umum dianggap tidak normal. Sehingga muncul pada orang-orang yang suka makanan ekstrim. Kenapa menular ke manusia, karena pola dan gaya hidup manusia yang di luar kebiasaan. Makan tikus, ular, kelelawar. Mereka termasuk binatang yang menularkan penyakit. Pola konsumsi seperti itulah yg merupakan penyebab penularan penyakit tersebut.

Pencegahan secara umum untuk virus ini adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh. Pada prinsipnya infeksi bakterti dan virus bisa menyerang kita bila daya tubuh rendah Solusinya daya tahan tubuh harus kuat. Kuncinya adalah dengan makanan bergizi, istirahat cukup, minum yang cukup, serta menjaga agar tidak mudah stress.  Mengapa stress cukup berpengaruh? karena ternyata kondisi stress yang berlebihan akan berpengaruh pada system imunitas kita. Selain itu, biasakan untuk menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau alkohol 70%. Seperti habis dari berkegiatan di luar rumah, dahulukan cuci tangan, terutama waktu akan makan dan minum. Cuci tangan merupakan hal sepele yang terkadang kita abaikan, padahal itu sangat penting dilakukan secara rutin. Sehingga bisa kita mengurangi risiko terinfeksi virus corona

“Khusus untuk corona, kalau kita merasa tenggorokan kering, harus sering-sering minum air. Hindari minum air dingin sewaktu panas, sehingga bisa membuat lapisan atau mukosa tenggorokan menjadi pecah. Jika pecah, virus akan cepat melekat dan masuk melalui mukosa yang pecah itu. Hukum fisika juga berlaku dalam badan kita, seperti halnya gelas yang ditaruh di suhu dingin, kemudian di isi dengan air panas, maka dia akan retak. Terkait dengan masker yang diburu di pasaran seperti masker N-95, tidak ada jaminan 100% jika kita menggunakannya maka tidak akan tertular virus. Karena masih ada celah di atas hidung dan sekitarnya. Selain itu, gak usah panik dan parno ya. Tetap waspada dan jaga pola kondisi tubuh”, tegas Surahman.

Sebenarnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari serangan wabah corona ini. Salah satu yang terpenting adalah kesiapan dan kesigapan negara melindungi warganya di manapun berada dari serangan wabah penyakit. Indonesia termasuk negara yang belum memiliki undang undang (UU) tentang sistem kesiapan menghadapi epidemik dan pandemik.

Aturan perundangan yang selama ini dipakai dalam kondisi kegawatdaruratan adalah UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Banyak kalangan yang menilai UU itu sudah tidak relevan bahkan tidak mampu lagi mengatasi ancaman di era mendatang. UU No. 4 Tahun 1984 tersebut merupakan dasar hukum penanganan wabah penyakit yang sudah berlaku selama 36 tahun. Dalam UU tersebut, wabah penyakit diartikan sebagai kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Di dalamnya tidak hanya mengatur bagaimana upaya penanggulangannya, namun juga mengatur sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana. Pihak yang diancam adalah mereka yang menghalang-halangi penanggulangan penyakit menular. Yang dimaksud dalam tindakan penanggulangan wabah penyakit menular yaitu: penyelidikan epidemiologis; pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk tindakan karantina; pencegahan dan pengebalan; pemusnahan penyebab penyakit; penanganan jenazah akibat wabah; penyuluhan kepada masyarakat; dan upaya penanggulangan lainnya. Penanggulangan penyakit menular dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Dalam pasal 14 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Ancamannya maksimal penjara satu tahun dan/atau denda maksimal satu juta rupiah.

Peraturan pelaksanaan dari UU No.4 tahun 1984 termaktub dalam PP No. 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. PP ini mengatur tentang bagaimana upaya penanggulangan dilakukan. Mengatur apa yang harus dilakukan pemerintah pusat dan daerah jika ada wabah penyakit menular. Masyarakat juga dapat berperan serta melalui pemberian informasi adanya penderita atau tersangka penderita penyakt wabah; membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan wabah; menggerakkan motivasi masyarakat dalam upaya penanggulangan wabah; atau kegiatan lainnya dapat bentuk tenaga dan keahlian.

Selain itu juga tercantum dalam Pasal 8 Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular yang menjelaskan tiga langkah penanggulangan. Hal tersebut adalah reduksi, eliminasi dan eradikasi. Reduksi adalah upaya pengurangan angka kesakitan atau kematian akibat penyakit menular tertentu agar penyakit tersebut menurun secara bertahap. Eliminasi adalah upaya pengurangan terhadap penyakit secara berkesinambungan di wilayah tertentu sehingga angka kesakitan penyakit dapat ditekan agar tidak menjadi masalah di daerah tertentu. Eradikasi adalah upaya pembasmian yang dilakukan secara berkelanjutan melalui pemberantasan dan eliminasi untuk menghilangkan jenis penyakit menular tertentu secara permanenan sehingga tidak menjadi masalah kesehatan nasional.

Terkait dengan temuan berbagai macam berita hoax yang simpang siur di masyarakat tersebut, Kominfo menegaskan, telah melakukan pemblokiran konten hoax dan disinformasi. Serta akan melakukan penindakan melalui aparat penegak hukum. Hal tersebut merupakan peringatan kepada warganet agar tidak menyebarkan hoax, terkait kasus virus corona yang dapat meresahkan masyarakat. Jika terjadi pelanggaran ketentuan UU ITE, penyebar berita hoaks dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 28 Ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 45 Ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Yang berbunyi:

Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Nah, begitu ya teman-teman. Sebelum kita menyebarluaskan berita atau informasi di sosmed, ada baiknya kita pelajari dulu sumber kebenarannya. Karena selain bisa menimbulkan kecemasan juga bisa terkena saknsi lho. Selain itu, jangan terlalu panik ya menghadapi fenomena ini. Yang paling penting adalah kita tetap berpikir positif dan tetap menjaga daya tahan tubuh dengan asupan gizi serta istirahat yang cukup.

Stay safe and stay healthy everyone!

PODCAST NGOPI HUKUM di Spotify Episode ke 20 tentang : “Jadi Parno Virus Corona? Cek Dulu Kebenarannya”

Referensi :
Dokter Surahman Muin, Sp, PD – internist RS Satya Negara Sunter Jakarta
– UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
– UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.
– UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
– https://www.tempo.co/tag/virus-corona

Leave A Reply

Your email address will not be published.