Take a fresh look at your lifestyle.

Pembuatan Wasiat Bagi Tenaga Medis dan Pasien Covid 19

463

Pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Hingga hari ini, korban virus ini telah mencapai jutaan orang. Semua ilmuwan di seluruh dunia sedang berlomba-lomba mencari solusi mengurangi penyebarannya dengan melakukan beberapa penelitian. Semua merasa dikejar waktu. Pasalnya, korban-korban mulai banyak yang berjatuhan. Tidak hanya pasien saja, tapi juga kerap menimpa tenaga medis. Sedih sekali tentu saja ya, apalagi bagi garda terdepan. Mengingat, perjuangan masih panjang dan tentu saja tidak mudah untuk dilawan sendiri. Butuh upaya kita semua untuk mengikuti anjuran pemerintah, untuk menekan sekecil mungkin rantai penyebarannya. Meski kita perlu berbesar hati, karena setiap harinya, selalu ada pasien yang sembuh total dan bisa berkegiatan seperti sedia kala. Namun ada kalanya tentu merasa was-was dan berpikiran bahwa ajal sudah dekat di depan mata.

Sempat terpikir nggak sih, untuk menyiapkan dan bikin wasiat di tengah pandemi seperti ini? Apalagi saat ini kita diwajibkan untuk menerapkan Social Distancing dan Physical Distancing. Nah, bagaimana juga bila yang ingin membuat wasiat adalah tenaga medis dan pasien Covid-19? Yuk simak penjelasan dari Windi Berlianti dari Ruang Hukum yang bekerjasama dengan Irma Devita Learning Center (IDLC), dalam webinar terkait tentang Pembuatan Wasiat Bagi Tenaga Medis dan Pasien Covid-19.

Di dalam penjelasan Pasal 49 ayat (c) UU No. 3 Tahun 2006 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1989 tentang peradilan agama, yang dimaksud dengan wasiat adalah perbuatan seseorang memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/badan hukum yang berlaku setelah yang memberi tersebut meninggal dunia. Dasar hukum wasiat termaktub dalam hukum islam. Sumber hukum yang mengatur tentang wasiat adalah surat ke-2 (Al Baqarah) ayat 180 yang artinya :

“Diwajibkan atas kamu, apabila diantara seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu, bapak dan karib kerabatnya secara ma’uf (ini adalah) kewajiban orang-orang yang bertaqwa.”

Sedangkan menurut Pasal 195 ayat 3 dari Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa wasiat kepada ahli waris masih memungkinkan dengan syarat telah mendapat persetujuan dari ahli waris lainnya.

Karena pentingnya suatu wasiat, ia menjadi dasar surat keterangan waris atau penetapan ahli waris. Dalam hal ini, Notaris berkewajiban untuk mengecek ada atau tidaknya wasiat yang pernah dibuat oleh si pewaris terdahulu. Hal ini dikarenakan wasiat tersebut menjadi dasar untuk pembuatan surat keterangan waris. Selama ada wasiat, maka perhitungan pembagian warisannya akan dikeluarkan dahulu bagian yang telah ditetapkan dalam wasiat yang dimaksud.

Sementara itu, bentuk wasiat terbagi menjadi empat. Apa saja dan bagaimana kewenangan Notaris untuk melakukannya? Yuk simak penjelasan berikut.

Yang pertama adalah wasiat umum. Hal ini diatur dalam Pasal 938-939 KUHPerdata. Ini merupakan wasiat dengan akta umum. Ia harus dibuat di hadapan Notaris. Notaris akan menuliskan kehendak pembuat wasiat dengan dihadiri saksi. Prosedurnya adalah, pewasiat menghadap kepada Notaris, kemudian Notaris mencatat keinginan pewasiat dengan dihadiri oleh dua saksi. Setelah itu, pewasiat, Notaris dan saksi-saksi menandatangani wasiat. Kemudian, Langkah yang terakhir adalah Notaris melaporkan wasiat.

Dalam masa pandemi ini, tentu wasiat jenis ini akan susah sekali dilakukan. Pasalnya, kehadiran Notaris berhadapan dengan pembuat wasiat sangat dibutuhkan. Nah, untuk menjalankan tugasnya, Notaris tentu memiliki resiko tinggi dalam menjalankan tugasnya. Apalagi pasien Covid-19 yang sedang dalam masa isolasi, dan tidak dapat ditemui oleh siapapun kecuali nakes (tenaga kesehatan). Jika harus memaksa pun, Notaris dan saksi pun diharuskan memakai Alat Pelindung Diri (APD). Namun ini tidak disarankan ya, karena beresiko tinggi.

Kedua, wasiat rahasia. Surat wasiat rahasia dapat ditulis sendiri oleh pewaris atau dituliskan oleh orang lain. Namun dalam hal ini, harus diserahkan kepada Notaris. Bisa diserahkan dalam keadaan terbuka atau tertutup. Ia harus ditandatangani oleh pewaris pada kertas akta wasiat tersebut atau kertas yang dipakai sebagai sampul (tertutup dan bersegel). Pada penyerahannya, akta tersebut ditandatangani oleh pewaris pada kertas akta wasiat tersebut atau kertas yang dipakai sebagai sampul (tertutup dan bersegel).

Ketiga, wasiat olografis. Dalam wasiat olografis harus seluruhnya ditulis tangan dan ditandatangani oleh pewaris. Wasiat ini harus dititipkan oleh pewaris kepada Notaris untuk disimpan. Setelah itu, Notaris itu wajib langsung membuat akta penitipan, yang harus ditandatangani olehnya, oleh pewaris dan oleh para saksi. Dalam akta tersebut, di bagian bawah wasiat, ditulis bahwa wasiat itu diserahkan secara terbuka, atau di kertas tersendiri bila itu disampaikan kepadanya dengan disegel. Ia punya kekuatan yang sama dengan wasiat umum, jika telah dibuat akta penitipan/penyimpanan oleh Notaris. Wasiat akan dianggap telah dibuat pada hari pembuatan akta penitipan. Nah, di masa pandemi ini, wasiat olografis bisa menjadi solusi bagi tenaga medis dan pasien Covid-19 yang sedang dalam masa isolasinya. Karena untuk penitipan kepada Notaris, dapat dilakukan dengan memberi kuasa kepada orang lain untuk menghadap Notaris.

Keempat, wasiat darurat. Sesuai dengan sifatnya, wasiat ini dibuat dalam keadaan darurat. Bagaimanakah keadaan darurat itu? Misalnya perang, penyakit menular dan berlayar. Nah, kalau dalam kondisi tersebut, siapakah yang mengesahkan wasiatnya? Dalam keadaan perang, pengesahannya bisa dilakukan oleh seorang perwira yang serendah-rendahnya berpangkat letnan. Atau di hadapan orang yang di tempat itu menduduki jabatan militer tertinggi. Dibuat dengan dihadiri 2 (dua) orang saksi. Dalam keadaan berlayar, yang mengesahkannya adalah nahkoda atau mualim kapal, atau orang yang menggantikan jabatan mereka. Dan dengan dihadiri oleh 2 (dua) orang saksi. Nah, jika keadaan daruratnya adalah karena dikarantina atau terjangkit penyakit menular tertentu, yang bisa mengesahkannya adalah pegawai negeri atau kepala rumah sakit dengan dehadiri oleh 2 (dua) orang saksi. Nah, bagaimanakah kekuatan yang mengikat wasiat darurat? Surat wasiat darurat ini kehilangan kekuatan bila pewasiat meninggal 6 (enam) bulan setelah berakhirnya sebab pembuatan wasiat darurat. Sedangkan untuk surat wasiat darurat yang dibuat karena penyakit menular, akan kehilangan kekuatannya jika pembuat wasiat meninggal dunia 6 (enam) bulam sejak tangga panandatanganannya.

Nah, bagaimana sih mekanisme pembuatan wasiat di luar negeri dibandingkan dengan Indonesia? Kita ambil perbandingan untuk Amerika dan Singapura ya. Kalau di Indonesia, pembuatan wasiat dibuat secara tertulis dan lisan. Sedangkan di Amerika dan Singapura, hanya dibuat secara tertulis. Untuk urusan saksi, semuanya sama, yaitu minimal dihadiri oleh 2 (dua) orang saksi. Seperti halnya saksi, dalam urusan pelaksana wasiat, pembuat wasiat wajib menunjuk pelaksana wasiat. Untuk masalah pelaporan wasiat, di Amerika dan Singapura, tidak perlu melaporkan kepada Notaris. Sedangkan di Indonesia, perlu dilaporkan kepada Notaris. Di Amerika dan Singapura, tidak ada peran Notaris dalam pembuatan wasiat. Sedangkan di Indonesia, Notaris berperan penting dalam pembuatan wasiat.

Itu tadi informasi yang dapat kami sampaikan terkait dengan Pembuatan Wasiat Bagi Tenaga Medis dan Pasien Covid 19. Terima kasih, Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, jangan lupa untuk bergabung dengan diskusi yang informasinya dapat dilihat melalui instagram @idlc.id.

Penjelasan tentang Pembuatan Wasiat Bagi Tenaga Medis dan Pasien Covid 19 ini bisa juga didengarkan melalui podcast Ngopi Hukum by IDLC.ID di link ini

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.